Camilan Tanah Liat dari Kalimantan Bukan Sekadar Iseng, Tapi Warisan Tradisi

RASANUSANTARAFOOD. Bayangkan sebuah penganan kering, cokelat keabu-abuan warnanya, berbentuk menyerupai kue kecil atau potongan biskuit keras. Sekilas tampak seperti kudapan biasa. Tapi ketika Anda bertanya, “Terbuat dari apa ini?” jawabannya bisa membuat kening berkerut: tanah liat.

Ya, di sebagian wilayah Murung Raya, Kalimantan Tengah, masyarakat lokal memiliki tradisi unik mengolah tanah liat menjadi camilan. Unik bukan hanya karena bahannya yang tak biasa, tapi juga karena cerita dan keyakinan yang menyertainya.

Bukan Tanah Sembarangan, dan Bukan untuk Dimakan Sembarangan

Tanah liat yang digunakan bukan diambil asal dari pekarangan. Ia berasal dari tempat khusus, yang oleh warga dianggap bersih, alami, dan aman. Biasanya diolah oleh tangan-tangan terampil para perempuan desa, tanah itu dibersihkan, dijemur, kemudian dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai makanan kering.

Tapi tunggu dulu camilan ini bukan dimaksudkan untuk dimakan seperti keripik atau kue pada umumnya. Warga lokal menjelaskan bahwa fungsinya lebih ke arah simbolis atau sebagai “penawar mual”. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ‘pembersih tubuh secara alami’.

Meski beberapa orang mungkin benar-benar mencicipinya dalam jumlah kecil, kebanyakan hanya menyimpannya sebagai bagian dari budaya, bukan konsumsi rutin.

Dijual di Warung, Diteruskan oleh Generasi

Menariknya, benda ini bisa ditemukan disejumlah warung tradisional didesa Mangkahui dan sekitarnya. Dijajakan tanpa kemasan mewah, ia tetap menjadi daya tarik, terutama bagi orang luar yang penasaran. Bagi warga, membuat camilan tanah liat ini bukan sekadar kegiatan ekonomi rumahan, tapi cara menjaga tradisi agar tak hilang ditelan waktu.

Kuliner atau Kearifan Lokal? Mungkin Keduanya

Fenomena ini tentu mengingatkan kita bahwa “makanan” tidak selalu soal rasa, aroma, atau kandungan gizi. Kadang, ia hadir sebagai manifestasi budaya simbol dari bagaimana manusia menjalin hubungan dengan alam sekitarnya.

Fakta bahwa masyarakat Kalimantan bisa mengolah sesuatu yang dianggap tak lazim menjadi bagian dari tradisi, menunjukkan betapa luas dan dalamnya definisi kuliner jika dilihat lewat kacamata budaya.

Di era ketika camilan kekinian berlomba tampil estetik di Instagram, hadirnya makanan dari tanah liat ini seperti jeda yang kontemplatif. Ia mengajak kita menengok kembali nilai-nilai lama, di mana alam tak sekadar ditambang atau dieksploitasi, tapi juga dihargai, diolah, dan diwariskan dengan penuh kesadaran.

Jadi lain kali, jika Anda berkunjung ke pelosok Kalimantan dan ditawari ‘kue dari tanah’, jangan buru-buru menolak. Mungkin Anda tak akan mencicipinya, tapi siapa tahu Anda pulang membawa kisah yang jauh lebih berharga.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai